Drama Tari Tak Berdialog

Jumat, 22 Maret 2013


Drama Tari Tak Berdialog
1.      Sendratari
Sendratari pada hakekatnya adalah hasil kreativitas para seniman modern melalui pengolahan kembali elemen-elemen seni dan bentuk-bentuk kebudayaan yang sudah ada. Sebagaimana halnya di Jawa di mana sendratari dibentuk oleh unsur-unsur Wayang Wong dan Wayang Kulit, di Bali sendratari di bentuk dengan memadukan unsur-unsur Pewayangan, Pegambuhan, Pelegongan dan Kekebyaran.
a.      Sendratari Rajapala  

Seni Dramatari tanpa berdialog ini juga ciptaan I Wayan Beratha, menggambarkan kisah I Rajapala yang bertemu dengan Bidadari Ken Sulasih yang kemudian berlanjut dengan perkawinan. Setelah dari perkawinan ini lahir seorang anak yang diberi nama I Durma. Maka Ken Sulasih kembali ke Kahyangan meninggalkan I Rajapala dan I Durma. Karena tidak tahan ditinggalkan oleh oleh Kensulasih maka I Rajapala pun pergi ke dalam hutan untuk bertapa untuk bertapa bertapa dan tinggallah I Durma seorang diri. Lanjutan dari ceritra ini adalah I Durma mohon diri hendak mencari ayahnya. Ketika itu datanglah seorang utusan yang melaporkan bahwa rakyat ditepi hutan diganggu oleh raksasa Durgadening. I Durma bertemu dengan ayahnya yang sudah tua.

Disamping tari-tarian dan Sendratari tersebut diatas di Bali masih ada sejumlah tari-tarian maupun sendratari yang kini sedang mengalalami ujian oleh masyarakat seperti : Sendratari Narakesuma, Senopati Abimanyu, Sampek Ing Tahi, ditambah dengan sejumlah tari-tarian lepas seperti: Tari Wirayuda, Bima Kroda, Marpati dan lainnya



b.      Sendratari Jayaprana
Karya tari berlakon, tanpa dialog yang pertama diciptakan di Bali oleh I Wayan Beratha pada tahun 1961. Mengisahkan sebuah legenda dari Bulelengyang terkenal, Jayaprana -  Layonsari.
Dua anak desa, I Nyoman Jayaprana (abdi kesayangan Raja Kalianget) bertemu dengan Ni Nyoman Layonsari (putri Jero Bandesa Banjar Sekar). Sejak pertemuan mereka di suatu pasar, Jayaprana dan Layonsari saling jatuh cinta yang akhirnya bersepakat untuk kawin. Perkawinan ini tidak bertahan lama karena Raja Kalianget tergila-gila pada kecantikan Ni Layonsari. Dengan menggunakan segala tipu muslihat untuk memisahkan pasangan baru  ini. I Jayaprana di utus ke Teluk Terima bersama Patih Sawunggaling yang kemudian menikamnya di sebuah hutan sehingga tewas. Dengan berpura-pura meratapi kematian abdi kesayangannya, sambil menawarkan belas kasihan, Prabu Kalianget merayu Ni Layonsari agar mau dibawa ke puri. Permintaan ini ditolak mentah-mentah oleh Ni Layonsari yang telah mengetahui suaminya telah dibunuh oleh suruhan sang raja. Tak sudi menerima perlakuan seperti itu sang raja merasa berang, lalu memaksa Ni Layonsari. Ketika terjadi pergumulan dengan sang raja, Ni Layonsari menarik keris sang raja untuk menikam dirinya sendiri. Melihat hal ini sang raja menjadi kalap lalu membunuh setiap orang yang mendekat padanya. Kisah ini berakhir secara tragis dengan tewasnya raja Kalianget di tangan rakyatnya sendiri.
c.       Sendratari Arya Bebed
Adalah sebuah sendratari yang melakonkan cerita Babad yang pernah populer di Bali, Arya Bebed
Sendratari Arya Bebed mengisahkan pertemuan Mahapatih Gajah Mada dengan Ni Luh Sekarini di desa Kedangan ketika mengadakan ekspedisi di Bali. Pertemuan ini berakhir dengan perkawinan dan membuahkan seorang anak bernama I Jamong. Karena pertemuan sang Mahapatih dengan putranya, beberapa tahun kemudian di Majapahit, dengan perantaraan kain pengikat pinggang-bebed, maka I Jamong diakui sebagai putra sang Mahapatih dengan nama Arya Jamong
Sendratari ini adalah sebuah karya I Wayan Dibia pada tahun 1982. Sendratari ini diciptakan untuk kerabat kerja Gong Kebyar duta Kabupaten Gianyar pada Festival Gong Kebyar se Bali.
d.      Sendratari Kebo Iwa
Sendratari Kebo Iwa mengisahkan gugurnya patih andalan raja Bali oleh Mahapatih Majapahit, Gajah Mada.  Sendratari ini adalah ciptaan I Nyoman Cerita pada tahun 1987. Sendratari ini diciptakan untuk Kabupaten Gianyar pada Pekan Kesenian Bali ke 8.

Atas undangan sang Mahapatih (yang menjanjikan jodoh yang cocok untuk Kebo Iwa), patih andalan Bali yang juga bergelar Kebo Wanira, berangkat ke Majapahit. Ketika Kebo Iwa tengah menggali sumur besar atas permintaan istrinya (boneka buatan Gajah Mada), pasukan Majapahit melemparinya dan menimbun sumur dengan batu. Di sinilah Kebo Iwa sadar bahwa kehadirannya di Majapahit memang untuk dibunuh.
Di hadapan Gajah Mada ia berkata bahwa ia rela mati bukan karena kalah melawan Gajah Mada melainkan demi persatuan nusantara.
                                                           
e.      Mahabarata
Cerita Mahabharata juga merupakan sumber lakon sendratari yang banyak digarap oleh para seniman tari di Bali. Sejak pertengahan tahun 1970, sejumlah seniman, baik perorangan maupun berkelompok, telah menggarap bagian-bagian dari cerita ke dalam sendratari ini. Selain itu, Tim Sendratari Ramayana dan Mahabharata Propinsi Bali juga telah mempagelarkan ke delapan belas bagian atau parwa dalam epos Mahabharata. Berdasarkan jumlah penarinya, sendratari Mahabharata juga dapat dibedakan menjadi sendratari Mahabharata kecil dan sendratari besar atau kolosal.
                                                              i.      Mahabharata Kecil
Sendratari ini digarap oleh kerabat Gong Kebyar Kabupaten Gianyar pada Festival Gong Kebyar se Bali pada tahun 1978. Didukung oleh sekitar 13 orang penari, tokoh-tokoh utama dari sendratari ini terdiri dari Sang Kaca, Dewayani, Bhagawan Sukra dan Wresa Parwa.
Sendratari ini adalah karya I Wayan Dibia dengan dhalang I Ketut Suweca.
                                                            ii.       Mahabarata Kolosal
Sejak tahun 1981 ada sejumlah sendratari Mahabharata Kolosal yang telah ditampilkan pada Pesta Kesenian Bali selama ini. Di antara bagian-bagian cerita yang dipagelarkan pada tahun-tahun awal Pesta Kesenian Bali adalah:
Arjuna Wiwaha
Bale Gala-Gala
Sayembara Drupadi
Gugurnya Duryudhana
Sayembara Dewi Amba
Gugurnya Abhimanyu
Pandawa Korawa Aguru
Gugurnya Gatutkaca
Dewa Ruci
Gugurnya Karna
Eka Lawya
Gugurnya Salya
Kresna Duta
Gugurnya Kresna
Kangsa Lima
Gugurnya Kicaka
Sakuntala
Pendawa Kesorga
Parikesit
Prabu Nala
dan lain-lain




f.       Sendratari Ramayana (Prambanan)
        Sendratari Ramayana menceritakan perjalanan hidup Rama. Sedangkan Sendratari yang ditampilkan hanya merupakan sebagian kecil dari perjalanan hidup Rama. Cerita ini Berasal dari aliran / agama hindu yang datang dari India , maka di India pun cerita ini sangat terkenal. Candi Prambanan dipilih sebagai tempat pelaksanaan Sendratari karena candi tersebut merupakan candi peninggalan agama Hindu dan cerita Ramayana juga merupakan cerita beraliran Hindu. Candi Prambanan berfungsi untuk memberi penghormatan bagi Dewa Siwa, Dewa Wisnu, dan Dewa Rahmat. Candi ini juga berfungsi untuk melestarikan budaya dan mengenalkan sejarah bagi para turis.

Bahasa yang digunakan dalam sendratari Ramayana adalah bahasa jawa. Selama ini Tidak pernah disajikan dalam versi bahasa lain , namun diterangkan dalam bentuk narasi ( teks penterjemah bahasa inggris dan bahasa Indonesia ). Usaha yang dilakukan oleh pelaksana untuk mempertahankan sendratari adalah dengan membentuk Sendratari Ramayana dalam bentuk cerita, serta dengan menerbitkan buku, dan membuat wayang kulit. Cerita ini bertema kisah pertarungan Rama dan Rahwana untuk menikahi seorang putrid cantik bernama Dewi Shinta. Cerita ini beramanat bahwa untuk mendapatkan apa yang menjadi milik kita, kita harus berusaha keras, saling percaya, dan meminta pertolongan Tuhan. Selain itu keserakahan serta kejahatan pasti akan kalah. Ada banyak tokoh – tokoh pada cerita ini. Antara lain :
1. Rama bersifat baik hati dan selalu berusaha untuk mendapat kan kembali apa yang hilang.
2. Dewi Shinta bersifat lemah lembut
3. Leksmana yang bersifat setia kepada Rama
4. Rahwana bersifat jahat dan serakah
5. Marica ( Kijang Kencana )
6. Jatayu
7. Hanuman
8. Sugriwa
9. Subali
10. Iriyata
11. Kumbakarna
12. Dewi Tara

 Cerita ini memiliki latar waktu di zaman dahulu serta berlatar tempat di Negara Mantili, Kerajaan Alengka, Hutan Dandaka, Gua Kiskendo, Taman Argasoka. Cerita ini memiliki alur maju. Sinopsis cerita adalah sebagai berikut :
Rama Wijaya, Shinta, dan Leksmana sedang bertualang ke hutan Dandaka. Rawana melihat Dewi Shinta dan ingin memperistrinya. Maka Rawana menyuruh Marica untuk mengubah dirinya menjadi kijang kencana. Shinta yang terpesona melihat kijang kencana menyuruh Rama menangkap kijang kencana. Lalu Rama pergi mengejar kijang itu. Setelah menumggu lama, Shinta merasa khawatir dan menyuruh Leksman untuk menyusul Rama. Sebelum meninggalkan Shinta, Leksmana membuat lingkaran pelindung di sekitar Shinta. Saat Rahwana menyadari bahwa Shinta sendirian, ia lelu menyamar menjadi pengemis tua lalu menculik Shinta dan membawanya ke kerajaan Alengka. Dalam perjalanan ke alengka Rahwana bertemu Jatayu dan mereka bertarung, dan Jatyu kalah. Saat Rama dan Leksmana menyadari bahwa Sinta telah hilang, Rama negira Jatayu telah membunuhnya namun ditahan Leksmana. Jatayu menjelaskan semuanya lalu ia mati. Lalu dating Hanuman menceritakan Subali yang merebut Dewi Tara dari Sugriwa. Rama kemudian bersedia membantu Sugriwa. Subali lalu dikalahkan Sugriwa dibantu oleh Rama. Sugriwa akhirnya memutuskan mebantu Rama menyelamatkan Sinta. Lalu Hanuman dikirim ke kerajaan Alenka. Sementara itu Shinta yang menolak lamaran Rahwana untuk memperistrinya tiba – tiba mendengar lagu yang dinyanyikan Hanuman. Lalu Hanuman menghancurkan Taman Argasoka serta membakar Istana Alengka. Lalu Hanuman melaporkan kekuatan pasukan lawan kepada Rama yang membangun jembatam untuk menyerang Alengka. Setelah itu peperangan terjadi dan Rahwana kalah. Kemudian Shinta bertemu Rama kembali namun Rama meragukan kesucian Shinta. Dengan bantuan Dewa Api Shinta berhasil membuktikan kesuciannya. Dan akhirnya Rama menerima Shinta kembali.

g.      Langendriyan

Bentuk drama Jawa yang sudah jarang muncul di atas pentas ialah langendriyan. Opera-drama-tari ini berkembang pada paruh kedua abad ke-18 di Surakarta dan Yogyakarta. Adalah menantu Sri Mangkunegara IV (1853-1881) yang menggubah gaya Surakarta, sedangkan Raden Tumenggung Purwa-diningrat dan Pangeran Mangkubumi menciptakan gaya Yogyakarta pada 1876.

Menurut versi Kasunanan Surakarta, yang mengilhami bentuk teater tradisional ini ialah tradisi ura-ura atau menembang yang dilakukan buruh batik di perusahaan milik Godlieb, daerah Pasar Pon, Solo. Selama pementasannya, seniman langendriyan menguras stamina luar biasa sebab sepanjang pertunjukan mereka menari sambil berjongkok dan sesekali bertumpu pada lutut. Selain itu, langendriyan memiliki tingkat kesulitan yang tinggi sehingga menuntut kemampuan yang prima dari seniman pendukungnya, mulai dari olah tari, vokal, hingga kemampuan teater.
Langendriyan mengambil lakon Damar-wulan, sebuah roman sejarah tentang perjuangan Ratu Ayu Kencanawungu dari Majapahit, Jawa Timur, yang berusaha mengatasi pemberontakan Menakjingga, Bupati Blambangan. Sama seperti teater tradisional Jawa lainnya, langendriyan diiringi orkestra gamelan, dengan dialog para pemain menggunakan tembang Jawa.
Adapun di Yogyakarta, kisah yang diambil yaitu Ramayana. Dan, karena banyaknya tokoh kera (wanara) maka pertunjukan disebut langen-mandrawanara. Sesuai dengan perkembangan zaman, banyak sentuhan baru diberikan pada opera Jawa ini. Dekade 1970 dan 1980 ialah momentum saat langendriyan mendapat sentuhan dari koreografer Jawa seperti Sardono W Kusumo, Retno Maruti, dan Sal Murgiyanto.
Mereka memadukan langendriyan dengan bedaya dan wayang wong supaya tercipta dramatisasi lain di atas pentas. Kolaborasi tersebut selanjutnya dikenal dengan sebutan langenbeksa. Selain langendriyan, Jawa-utamanya Jawa Tengah-mengenal teater tradisional lain, yakni wayang wong, golek menak, dan sendratari. (7N-4)




0 komentar:

Poskan Komentar