Drama Tari

Jumat, 22 Maret 2013


Latar Belakang
            Negara Indonesia adalah Negara yang terkenal akan kekayaan alam dan kekayaan budayanya. Banyak 0rang-orang dari luar Indonesia mengakui dan mengagumi kekayaan Indonesia itu. Namun, yang paling menjadi primadona adalah kebudayaan Indonesia yang beraneka ragam. Salah satunya adalah seni tari, seni tari itu sendiri memiliki banyak macam dan memiliki kekhasan disetiap wilayah di Nusantara.
            Salah satu jenis seni tari yang mulai terlupakan dan sedikit yang mengenalnya adalah Seni Drama Tari. Padahal kesenian ini adalah termasuk kesenian yang ada sejak jaman dahulu dan dapat dikatakan sebagai leluhur dari Seni Drama Tari yang ada saat ini. Memeng sekarang ini sudah banyak bermunculan seniman-seniman muda yang berkecimpung didalam Seni Drama Tari modern, namun tidak banyak yang mengenal Seni Drama Tari traditional. Ditambah lagi dengan , generasi muda yang kini sudah “anti” untuk menonton drama tari tradisional. Jika hanya menonton saja mereka tidak berminat, apalagi untuk mengenal dan melestarikan Seni Drama Tari tradisional.
Oleh karena itu, kami ingin memperkenalkan Seni Drama Tari ini kepada para pembaca agar mereka lebih mengenal kesenian tersebut. Dengan begitu, Seni Drama Tari akan lebih dikenal dan dapat dilestarikan untuk menjaga warisan leluhur yang tidak ternilai harganya ini. Jika bukan kita sebagai generasi muda yang melestarikannya,maka anak cucu kita tidak akan pernah mendapatkan kesempatan untuk menyaksikan kesenian leluhur kita ini.
           







Landasan Teori
            Seperti halnya dengan ilmu-ilmu yang lain kecuali ilmu ekstra,sangatlah sulit untuk memberikan difinisi atau pengertian tentang tari. Memamg banyak para ahli tari yang telah membuat difinisi atau pengertian tentang tari,tetapi difinisi atau batasan itu masih masih kelihatan sekali unsure subyetifitasnya dari sipembuat difinisi atau pengertian dan sudut pandang disiplin ilmunya. Seorang ahli psikologi, tentu akan membuat difinisi tari sesuai dengan dasar-dasar ilmu psikologi, seorang ahli antropologi akan membuat batasan tari sesuai dengan disiplin ilmu antropologi,demikian juga denganahli sejarah tentu akan membuat difinisi tari sesuai dengan disiplin ilmu yang dimilikinya yaitu sejarah.
Difinisi itu semuanya benar,sebab semuanya itu dapat dipertanggungjawabkan oleh si pembuat difinisi dengan menempatkan tari pada proporsi ilmu yang dikuasainya.
Kalau kita melihat perkembangan tari pada masa lampau sampai sekarang,menyangkut segi-segi kehidupan manusia yang sangat komplek.Tari mempunyai sangkut paut dengan magis,agama,kesusasteraan,musik,drama,seni gerak,seni rupa dan lain-lain.Dengan demikian apabila sebuah difinisi tari tidak dapat mencakup segala segi-segi yang terdapat pada tari,pastilah difinisi itu tidak mencakup pula.untuk dapat mencakup atau sesuai dengan proporsi yang dimaksudkan,tari ditempatkan pada proporsi yang dimaksudkan,tari ditempatkan pada prporsi sebagai cabang dari kebudayaan.Sedang unsur yang paling pokok atau media yang pokok adalah gerak.
Definisi tari menurut beberapa pakar Tari:
1. Tari menurut Soedarsono
Tari adalah ekspresi jiwa manusia melalui gerak-gerak yang indah dan ritmis.
2.  Tari menurut Susan K.Lenger
Tari adalah gerak-gerak yang dibentuk secara ekspresif yang diciptakan manusia untuk dapat dinikmati.
3. Tari menurut Curt Sacha
Tari adalah gerak yang ritmis
4. Tari menurut Kamala Devi Chattopadhyaya
Tari adalah suatu instinct atu desakan emosi didalam diri kita yang mendorong kita untuk mencari ekspresi pada tari.
Tari-tari yang berada  di Indonesia apabila dilihat dari isi atau temanya dapat dibedakan menjadi :
  1. Tari Pantomim
  2. Tari Erotik
  3. Tari Kepahlawanan
  4. Dramatari
Dramatari adalah sebuah tari yang dalam penyajiannya menggunakan plot atau alur cerita,tema,dan dilakukan dengan cara kelompok. Drama Tari dibagi menjadi 3 kelompok besar yaitu:
1.      Drama Tari Berdialog
Drama tari berdialog adalah drama tari yang pengungkapan ceritanya disamping menggunakan gerak tari juga dengan menggunakan dialog. Tata rias adalah penggunaan alat kosmetik sesuai dengan karakter yang akan dipergunakan. Tata panggung adalah tempat atau ruang yang digunakan untuk pentas pargelaran seni tari atau seni musik.
Contoh dari drama tari berdialog antara lain :
a. wayang orang
b. ketoprak
c. ludruk

2.      Drama Tari Berlagu
Drama tari berlagu adalah drama tari yang pengungkapan ceritanya disamping menggunakan gerak tari juga dengan menggunakan nyanyian-nyanyian berupa kidung.
 Contohnya yaitu:
a.       Arja
b.      Sampik
c.       Arja Japatuan
d.      Arja godogan



3.      Drama Tari Tak Berdialog
Drama tari tak berdialog adalah drama yang diungkapkan dengan gerak tari, dialognya digantikan olehseorang yang berperan sebagai dalang/ pengisi suara(dubbing) dan terkadang dibantu dengan tembang/lagu.
Contohnya adalah :
a. Sendratari
b. Langendriyan

















DRAMA TARI
Drama Tari Berdialog
Drama tari berdialog adalah drama tari yang pengungkapan ceritanya disamping menggunakan gerak tari juga dengan menggunakan dialog. Drama tari atau sendratari adalah drama yang diungkapkan dengan gerak tari, terkadang dibantu dengan tembang/lagu. Tata rias adalah penggunaan alat kosmetik sesuai dengan karakter yang akan dipergunakan. Tata panggung adalah tempat atau ruang yang digunakan untuk pentas pargelaran seni tari atau seni musik.
Adapun Jenis Drama Tari Berdialog, diantaranya :

1.  Drama Gong
http://www.babadbali.com/image/seni/drama/dt-drama-gong.jpgDrama Gong adalah sebuah bentuk seni pertunjukan Bali yang masih relatif muda usianya yang diciptakan dengan jalan memadukan unsur-unsur drama modern (non tradisional Bali) dengan unsur-unsur kesenian tradisional Bali. Dalam banyak hal Drama Gong merupakan pencampuran dari unsur-unsur teater modern (Barat) dengan teater tradisional (Bali). Nama Drama Gong diberikan kepada kesenian ini oleh karena dalam pementasannya setiap gerak pemain serta peralihan suasana dramatik diiringi oleh gamelan Gong (Gong Kebyar). Drama Gong diciptakan sekitar tahun 1966 oleh Anak Agung Gede Raka Payadnya dari desa Abianbase (Gianyar). Diakui oleh penciptanya bahwa Drama Gong yang diciptakan dengan memadukan unsur-unsur drama tari tradisional Bali seperti Sendratari, Arja, Prembon dan Sandiwara dimaksudkan sebagai sebuah prembon (seni campuran) modern.
Unsur-unsur teater modern yang dikawinkan dalam Drama Gong antara lain :
  • tata dekorasi
  • penggunaan sound efect
  • akting
  • tata busana
Karena dominasi dan pengaruh kesenian klasik atau tradisional Bali masih begitu kuat, maka semula Drama Gong disebut "drama klasik".
Adalah I Gusti Bagus Nyoman Panji yang kemudian memberikan nama baru (Drama Gong) kepada kesenian ini berdasarkan dua unsur baku (drama dan gamelan gong) dari kesenian ini. Patut dicatat bahwa sebelum munculnya Drama Gong di Bali telah ada Drama Janger, sebuah kesenian drama yang menjadi bagian dari pertunjukan tari Janger. Dalam banyak hal, drama Janger sangat mirip dengan Sandiwara atau Stambul yang ada dan populer sekitar tahun 1950.
Drama Gong adalah sebuah drama yang pada umumnya menampilkan lakon-lakon yang bersumber pada cerita-cerita romantis seperti cerita Panji (Malat), cerita Sampik Ingtai dan kisah sejenis lainnya termasuk yang berasal dari luar lingkungan budaya Bali. Dalam membawakan lakon ini, para pemain Drama Gong tidak menari melainkan berakting secara realistis dengan dialog-dialog verbal yang berbahasa Bali.
Para pemeran penting dari Drama Gong adalah:
  • Raja manis
  • Raja buduh
  • Putri manis
  • Putri buduh
  • Raja tua
  • Permaisuri
  • Dayang-dayang
  • Patih keras
  • Patih tua
  • Dua pasang punakawan

Para pemain mengenakan busana tradisional Bali, sesuai dengan tingkat status sosial dari peran yang dibawakan dan setiap gerak pemain, begitu pula perubahan suasana dramatik dalam lakon diiringi dengan perubahan irama gamelan Gong Kebyar. Masyarakat Bali mementaskan Drama Gong untuk keperluan yang kaitannya dengan upacara adat dan agama maupun kepentingan kegiatan sosial. Walaupun demikian, Drama Gong termasuk kesenian sekuler yang dapat dipentaskan di mana dan kapan saja sesuai dengan keperluan. Kesenian Drama Gong inilah yang memulai tradisi pertunjukan "berkarcis" di Bali karena sebelumnya pertunjukan kesenian bagi masyarakat setempat tidak pernah berbentuk komersial. Drama Gong mulai berkembang di Bali sekitar tahun 1967 dan puncak kejayaannya adalah tahun1970. Pada masa itu kesenian tradisional Bali seperti Arja, Topeng dan lain-lainnya ditinggalkan oleh penontonnya yang mulai kegandrungan Drama Gong. Panggung-panggung besar yang tadinya menjadi langganan Arja tiba-tiba diambil alih oleh Drama Gong. Namun semenjak pertengahan tahun 1980 kesenian ini mulai menurun popularitasnya, sekarang ini ada sekitar 6 buah sekaa Drama Gong yang masih aktif.
Sekaa - sekaa Drama Gong yang dimaksud antara lain adalah :
  • Drama Gong Bintang Bali Timur
  • Drama Gong Duta Budaya Bali
  • Drama Gong Dewan Kesenian
  • Drama Gong Dwipa Sancaya
  • dan lain-lain
Terakhir muncul Drama Gong Reformasi yang didukung oleh para bintang Drama Gong dari berbagai daerah di Bali.

2.  TARI-CALONARANG-DARI-BALI.jpgCalonarang
Calonarang Klasik, yang diperkirakan muncul sekitar akhir abad XIX di daerah Gianyar Barat (Batubulan, Singapadu, Sukawati), dibentuk oleh unsur-unsur Bebarongan, Pegambuhan, dan Palegongan (tiga jenis seni pertunjukan klasik yang berkembang baik di Kabupaten Gianyar). Unsur Babarongan diwakili oleh barong ket, rangda, dan celuluk; Pegambuhan oleh condong, putri, patih manis (Panji) dan patih keras (Pandung); dan Palegongan oleh sisia-sisia. Peran-peran penting lainnya yang lahir dari dramatari ini sendiri adalah matah gede (wanita tua) dan bondres (orang-orang desa yang berwatak lucu).

Pertunjukan Calonarang Klasik (seperti yang ada di Desa Singapadu, Batubulan, Sukawati, dan sekitarnya) mencakup tiga bagian:
a. pembukaan (pategak),
b. sajian tari dan drama (paigelan), terbagi atas tarian lepas (pangelembar)  dan tarian berlakon (lampahan)
c. penutup (panyuwud).

Untuk mengawali pertunjukan, biasanya dimainkan tabuh pategak yang dimainkan dengan gamelan Bebarongan atau Semarpagulingan (belakangan ini gamelan gong kebyar juga banyak dipakai).
Calonarang Prembon pada intinya adalah dramatari Calonarang campuran (per-imbuh-an) yang memadukan elemen-elemen seni pertunjukan Bebarongan, Pegambuhan, Palegongan, dan Paarjaan. Peran-peran Paarjaan yang dimasukkan ke dalam Calonarang meliputi: inya, galuh, mantri manis, dan mantri buduh. Dalam pertunjukan dramatari Calonarang Prembon terjadi dialog antara peran-peran yang memakai dialog Pagambuhan dan yang memakai dialog bertembang (magending) seperti dalam Arja. Secara umum, struktur pertunjukan Calonarang Prembon tidak jauh berbeda dengan, bahkan dapat dikatakan mengikuti Calonarang Klasik.

Sejak tahun 1970-an Calonarang Prembon menjadi semakin populer di masyarakat. Banyak yang memperkirakan bahwa hal ini disebabkan oleh kemungkinan Calonarang Prembon yang sekaligus dapat memuaskan selera pencinta Calonarang dan penggemar Arja. (sumber: tertulis Bapak I Wayan Dibia)

3.  http://upload.wikimedia.org/wikipedia/id/thumb/7/73/Tari_remo.jpg/220px-Tari_remo.jpgLudruk
Ludruk adalah kesenian drama tradisional dari Jawa Timur. Ludruk merupakan suatu drama tradisional yang diperagakan oleh sebuah grup kesenian yang di gelarkan disebuah panggung dengan mengambil cerita tentang kehidupan rakyat sehari-hari, cerita perjuangan dan lain sebagainya yang diselingi dengan lawakan dan diiringi dengan gamelan sebagai musik.
Dialog/monolog dalam ludruk bersifat menghibur dan membuat penontonnya tertawa, menggunakan bahasa khas Surabaya, meski kadang-kadang ada bintang tamu dari daerah lain seperti Jombang, Malang, Madura, Madiun dengan logat yang berbeda. Bahasa lugas yang digunakan pada ludruk, membuat dia mudah diserap oleh kalangan non intelek (tukang becak, peronda, sopir angkutan umum, etc).
Sebuah pementasan ludruk biasa dimulai dengan Tari Remo dan diselingi dengan pementasan seorang tokoh yang memerakan "Pak Sakera", seorang jagoan Madura.
Ludruk berbeda dengan ketoprak dari Jawa Tengah. Cerita ketoprak sering diambil dari kisah zaman dulu (sejarah maupun dongeng), dan bersifat menyampaikan pesan tertentu. Sementara ludruk menceritakan cerita hidup sehari-hari (biasanya) kalangan wong cilik.

4.    KetoprakImage
Ketoprak (bahasa Jawa: kethoprak) adalah sejenis seni pentas yang berasal dari Jawa. Dalam sebuah pentasan ketoprak, sandiwara yang diselingi dengan lagu-lagu Jawa, yang diiringi dengan gamelan disajikan.
Tema cerita dalam sebuah pertunjukan ketoprak bermacam-macam. Biasanya diambil dari cerita legenda atau sejarah Jawa. Banyak pula diambil cerita dari luar negeri. Tetapi tema cerita tidak pernah diambil dari repertoar cerita epos (wiracarita): Ramayana dan Mahabharata. Sebab nanti pertunjukkan bukan ketoprak lagi melainkan menjadi pertunjukan wayang orang.

5.    http://www.denpasarkota.go.id/images/?gambuh.jpgGambuh
Tari Gambuh adalah Dramatari Bali yang dianggap paling tinggi mutunya, merupakan Drama tari Klasik Bali yang paling kaya dengan gerakan tari dan dianggap sebagai sumber segala jenis tari klasik Bali, Gambuh berbentuk total theater dimana didalamnya terdapat unsur seni tari ( yang paling dominant ), seni suara ,seni sastra, , seni drama dan lain-lainnya . Di Bali gambuh diduga timbul sekitar abad ke xv yang lakonnya bersumber pada ceritra Panji.

Pementasan gambuh dilakukan sehubungan dengan upacara-upacara besar seperti odalan yang dilakukan secara besar-besaran ( odalan yang disertai upacara madana ), upacara perkawinan anak bangsawan, upacara pelebon ( ngaben ) dan lain sebagainya. Gambuh diiringi dengan gambelan Pagambuhan yang berlaras Pelog saih pitu, tokoh-tokoh yang biasa ditampilkan adalah : Condong kakan-kakan, Putri, Arja , Panji ( Patih Manis ), Patih Keras ( Perabangsa ), Demang Temenggung, Turas, Panasar dan Prabu. Gambuh yang masih aktif kini bisa didapati di Desa Batuan ( Gianyar ), Padang Aji ( Karangasem ) Apit Yeh ( Tabanan ) dan Singapadu ( Gianyar )




6.  http://www.denpasarkota.go.id/images/?tari%20topeng.JPGDrama Tari Topeng
        Topeng secara arti kata adalah suatu benda penutup maka yang dibuat dari kayu, kertas, kain dan bahan lainnya bentuknya bermacam-macam dari yang berbentuk Dewa-Dewa, Manusia, binatang dan lain-lainnya. Di Bali topeng dipakai menyebutkan suatu bentuk drama tari yang semua pelakunya menggunakan topeng dengan ceritra yang bersumber pada ceritra sejarah maupun babad-babad.
Jenis-jenis Topeng yang ada di Bali adalah
Topeng Pajegan : topeng yang ditarikan oleh seorang aktor dengan memborong semua tugas-tugas yang terdapat di dalam topeng. Di dalam Topeng Pajegan ada sebuah topeng yang mutlak harus ada yakni topeng Sidakarya. Oleh karena demikian eratnya hubungan topeng pajegan ini dengan upacara keagamaan maka topeng inipun disebut topeng Wali.

Topeng Panca : Drama tari topeng yang ditarikan oleh 5 (lima) orang penari. Topeng ini timbul di Denpasar sekitar tahun 1915.

Topeng Prembon : Dramatari topeng yang sudah dikombinasikan dengan unsur drama tari Bali lainnya ( biasanya dari arja ) namun strukturnya patopengannya masih tetap dominan.

Baik topeng Pajegan, topeng Panca, maupun topeng Prembon biasanya diiringi dengan gambelan gong. Adapun peran-peran yang biasa ditampilkan dalam Dramatari topeng adalah Topeng Keras, Topeng Tua ( keduanya berfungsi sebagai pengelembar) Penasar, Topeng Arsawijaya  (dalem), Patih dan Bebondressan.


7.  http://www.denpasarkota.go.id/images/?tari%20gambuh.jpgDrama Tari Wayang Wong
Wayang wong adalah Seni pertunjukan Tradisional yang mengambil Epos Ramayana yang dimainkan oleh tokoh manusia dengan kostum yang telah di sesuaikan dan memakai topeng sesuai dengan tokoh karakter masing-masing.
Wayang wong pada umumnya diiringi oleh tabuh bebatelan, dimana pertunjukan ini sejenis Parwa, Dramatari gambuh dan drama tari cupak grantang.
Namun wayang wong melibatkan banyak pemain / tokoh dan memiliki ciri khas tersendiri misalnya, memakai tokoh kera, paksi (Burung, raksasa dll.). Kalau diartikan wayang berarti bayangan atau ceritera yang diangkat dari seni pewayangan, sedangkan Wong berarti manusia.
Jadi wayang wong maksudnya tokoh pewayangan dimainkan oleh manusia.Wayang wong biasanya secara tradisional, sekaanya / groupnya pada umumnya beranggotakan dari krama pamaksan pura dan dengan perkembangan jaman wayang pun sampai saat sekarang ini biasanya berfungsi ganda, misalnya disamping merupakan tarian sakral ( Wali ) juga merupakan tarian Bebali dan Balih Balihan, serta tidak jarang dipublikasikan lewat media seperti Televisi, Radio dll.

Drama Tari Tak Berdialog
1.  Sendratari
Sendratari pada hakekatnya adalah hasil kreativitas para seniman modern melalui pengolahan kembali elemen-elemen seni dan bentuk-bentuk kebudayaan yang sudah ada. Sebagaimana halnya di Jawa di mana sendratari dibentuk oleh unsur-unsur Wayang Wong dan Wayang Kulit, di Bali sendratari di bentuk dengan memadukan unsur-unsur Pewayangan, Pegambuhan, Pelegongan dan Kekebyaran.
a.      Sendratari Rajapala  
http://www.denpasarkota.go.id/images/?images3.jpg
Seni Dramatari tanpa berdialog ini juga ciptaan I Wayan Beratha, menggambarkan kisah I Rajapala yang bertemu dengan Bidadari Ken Sulasih yang kemudian berlanjut dengan perkawinan. Setelah dari perkawinan ini lahir seorang anak yang diberi nama I Durma. Maka Ken Sulasih kembali ke Kahyangan meninggalkan I Rajapala dan I Durma. Karena tidak tahan ditinggalkan oleh oleh Kensulasih maka I Rajapala pun pergi ke dalam hutan untuk bertapa untuk bertapa bertapa dan tinggallah I Durma seorang diri. Lanjutan dari ceritra ini adalah I Durma mohon diri hendak mencari ayahnya. Ketika itu datanglah seorang utusan yang melaporkan bahwa rakyat ditepi hutan diganggu oleh raksasa Durgadening. I Durma bertemu dengan ayahnya yang sudah tua.

Disamping tari-tarian dan Sendratari tersebut diatas di Bali masih ada sejumlah tari-tarian maupun sendratari yang kini sedang mengalalami ujian oleh masyarakat seperti : Sendratari Narakesuma, Senopati Abimanyu, Sampek Ing Tahi, ditambah dengan sejumlah tari-tarian lepas seperti: Tari Wirayuda, Bima Kroda, Marpati dan lainnya


b.      by Ida Bagus Nyoman RaiSendratari Jayaprana
Karya tari berlakon, tanpa dialog yang pertama diciptakan di Bali oleh I Wayan Beratha pada tahun 1961. Mengisahkan sebuah legenda dari Bulelengyang terkenal, Jayaprana -  Layonsari.
Dua anak desa, I Nyoman Jayaprana (abdi kesayangan Raja Kalianget) bertemu dengan Ni Nyoman Layonsari (putri Jero Bandesa Banjar Sekar). Sejak pertemuan mereka di suatu pasar, Jayaprana dan Layonsari saling jatuh cinta yang akhirnya bersepakat untuk kawin. Perkawinan ini tidak bertahan lama karena Raja Kalianget tergila-gila pada kecantikan Ni Layonsari. Dengan menggunakan segala tipu muslihat untuk memisahkan pasangan baru  ini. I Jayaprana di utus ke Teluk Terima bersama Patih Sawunggaling yang kemudian menikamnya di sebuah hutan sehingga tewas. Dengan berpura-pura meratapi kematian abdi kesayangannya, sambil menawarkan belas kasihan, Prabu Kalianget merayu Ni Layonsari agar mau dibawa ke puri. Permintaan ini ditolak mentah-mentah oleh Ni Layonsari yang telah mengetahui suaminya telah dibunuh oleh suruhan sang raja. Tak sudi menerima perlakuan seperti itu sang raja merasa berang, lalu memaksa Ni Layonsari. Ketika terjadi pergumulan dengan sang raja, Ni Layonsari menarik keris sang raja untuk menikam dirinya sendiri. Melihat hal ini sang raja menjadi kalap lalu membunuh setiap orang yang mendekat padanya. Kisah ini berakhir secara tragis dengan tewasnya raja Kalianget di tangan rakyatnya sendiri.
c.       Sendratari Arya Bebed
Adalah sebuah sendratari yang melakonkan cerita Babad yang pernah populer di Bali, Arya Bebed
Sendratari Arya Bebed mengisahkan pertemuan Mahapatih Gajah Mada dengan Ni Luh Sekarini di desa Kedangan ketika mengadakan ekspedisi di Bali. Pertemuan ini berakhir dengan perkawinan dan membuahkan seorang anak bernama I Jamong. Karena pertemuan sang Mahapatih dengan putranya, beberapa tahun kemudian di Majapahit, dengan perantaraan kain pengikat pinggang-bebed, maka I Jamong diakui sebagai putra sang Mahapatih dengan nama Arya Jamong
Sendratari ini adalah sebuah karya I Wayan Dibia pada tahun 1982. Sendratari ini diciptakan untuk kerabat kerja Gong Kebyar duta Kabupaten Gianyar pada Festival Gong Kebyar se Bali.
d.      Sendratari Kebo Iwa
Sendratari Kebo Iwa mengisahkan gugurnya patih andalan raja Bali oleh Mahapatih Majapahit, Gajah Mada.  Sendratari ini adalah ciptaan I Nyoman Cerita pada tahun 1987. Sendratari ini diciptakan untuk Kabupaten Gianyar pada Pekan Kesenian Bali ke 8.
Atas undangan sang Mahapatih (yang menjanjikan jodoh yang cocok untuk Kebo Iwa), patih andalan Bali yang juga bergelar Kebo Wanira, berangkat ke Majapahit. Ketika Kebo Iwa tengah menggali sumur besar atas permintaan istrinya (boneka buatan Gajah Mada), pasukan Majapahit melemparinya dan menimbun sumur dengan batu. Di sinilah Kebo Iwa sadar bahwa kehadirannya di Majapahit memang untuk dibunuh. Di hadapan Gajah Mada ia berkata bahwa ia rela mati bukan karena kalah melawan Gajah Mada melainkan demi persatuan nusantara.


                                                                               
e.      Mahabarata
Cerita Mahabharata juga merupakan sumber lakon sendratari yang banyak digarap oleh para seniman tari di Bali. Sejak pertengahan tahun 1970, sejumlah seniman, baik perorangan maupun berkelompok, telah menggarap bagian-bagian dari cerita ke dalam sendratari ini. Selain itu, Tim Sendratari Ramayana dan Mahabharata Propinsi Bali juga telah mempagelarkan ke delapan belas bagian atau parwa dalam epos Mahabharata. Berdasarkan jumlah penarinya, sendratari Mahabharata juga dapat dibedakan menjadi sendratari Mahabharata kecil dan sendratari besar atau kolosal.
a.         Mahabharata Kecil
Sendratari ini digarap oleh kerabat Gong Kebyar Kabupaten Gianyar pada Festival Gong Kebyar se Bali pada tahun 1978. Didukung oleh sekitar 13 orang penari, tokoh-tokoh utama dari sendratari ini terdiri dari Sang Kaca, Dewayani, Bhagawan Sukra dan Wresa Parwa.
Sendratari ini adalah karya I Wayan Dibia dengan dhalang I Ketut Suweca.
b.      Mahabarata Kolosal
Sejak tahun 1981 ada sejumlah sendratari Mahabharata Kolosal yang telah ditampilkan pada Pesta Kesenian Bali selama ini. Di antara bagian-bagian cerita yang dipagelarkan pada tahun-tahun awal Pesta Kesenian Bali adalah:
Arjuna Wiwaha
Bale Gala-Gala
Sayembara Drupadi
Gugurnya Duryudhana
Sayembara Dewi Amba
Gugurnya Abhimanyu
Pandawa Korawa Aguru
Gugurnya Gatutkaca
Dewa Ruci
Gugurnya Karna
Eka Lawya
Gugurnya Salya
Kresna Duta
Gugurnya Kresna
Kangsa Lima
Gugurnya Kicaka
Sakuntala
Pendawa Kesorga
Parikesit
Prabu Nala
dan lain-lain




f.        Sendratari Ramayana (Prambanan)
        Sendratari Ramayana menceritakan perjalanan hidup Rama. Sedangkan Sendratari yang ditampilkan hanya merupakan sebagian kecil dari perjalanan hidup Rama. Cerita ini Berasal dari aliran / agama hindu yang datang dari India , maka di India pun cerita ini sangat terkenal. Candi Prambanan dipilih sebagai tempat pelaksanaan Sendratari karena candi tersebut merupakan candi peninggalan agama Hindu dan cerita Ramayana juga merupakan cerita beraliran Hindu. Candi Prambanan berfungsi untuk memberi penghormatan bagi Dewa Siwa, Dewa Wisnu, dan Dewa Rahmat. Candi ini juga berfungsi untuk melestarikan budaya dan mengenalkan sejarah bagi para turis.

Bahasa yang digunakan dalam sendratari Ramayana adalah bahasa jawa. Selama ini Tidak pernah disajikan dalam versi bahasa lain , namun diterangkan dalam bentuk narasi ( teks penterjemah bahasa inggris dan bahasa Indonesia ). Usaha yang dilakukan oleh pelaksana untuk mempertahankan sendratari adalah dengan membentuk Sendratari Ramayana dalam bentuk cerita, serta dengan menerbitkan buku, dan membuat wayang kulit. Cerita ini bertema kisah pertarungan Rama dan Rahwana untuk menikahi seorang putrid cantik bernama Dewi Shinta. Cerita ini beramanat bahwa untuk mendapatkan apa yang menjadi milik kita, kita harus berusaha keras, saling percaya, dan meminta pertolongan Tuhan. Selain itu keserakahan serta kejahatan pasti akan kalah. Ada banyak tokoh – tokoh pada cerita ini. Antara lain :
1. Rama bersifat baik hati dan selalu berusaha untuk mendapat kan kembali apa yang
hilang.
2. Dewi Shinta bersifat lemah lembut
3. Leksmana yang bersifat setia kepada Rama
4. Rahwana bersifat jahat dan serakah
5. Marica ( Kijang Kencana )
6. Jatayu
7. Hanuman
8. Sugriwa
9. Subali
10. Iriyata
11. Kumbakarna
12. Dewi Tara

 “Cerita ini memiliki latar waktu di zaman dahulu serta berlatar tempat di Negara Mantili, Kerajaan Alengka, Hutan Dandaka, Gua Kiskendo, Taman Argasoka. Cerita ini memiliki alur maju. Sinopsis cerita adalah sebagai berikut :
Rama Wijaya, Shinta, dan Leksmana sedang bertualang ke hutan Dandaka. Rawana melihat Dewi Shinta dan ingin memperistrinya. Maka Rawana menyuruh Marica untuk mengubah dirinya menjadi kijang kencana. Shinta yang terpesona melihat kijang kencana menyuruh Rama menangkap kijang kencana. Lalu Rama pergi mengejar kijang itu. Setelah menumggu lama, Shinta merasa khawatir dan menyuruh Leksman untuk menyusul Rama. Sebelum meninggalkan Shinta, Leksmana membuat lingkaran pelindung di sekitar Shinta. Saat Rahwana menyadari bahwa Shinta sendirian, ia lelu menyamar menjadi pengemis tua lalu menculik Shinta dan membawanya ke kerajaan Alengka. Dalam perjalanan ke alengka Rahwana bertemu Jatayu dan mereka bertarung, dan Jatyu kalah. Saat Rama dan Leksmana menyadari bahwa Sinta telah hilang, Rama negira Jatayu telah membunuhnya namun ditahan Leksmana. Jatayu menjelaskan semuanya lalu ia mati. Lalu dating Hanuman menceritakan Subali yang merebut Dewi Tara dari Sugriwa. Rama kemudian bersedia membantu Sugriwa. Subali lalu dikalahkan Sugriwa dibantu oleh Rama. Sugriwa akhirnya memutuskan mebantu Rama menyelamatkan Sinta. Lalu Hanuman dikirim ke kerajaan Alenka. Sementara itu Shinta yang menolak lamaran Rahwana untuk memperistrinya tiba – tiba mendengar lagu yang dinyanyikan Hanuman. Lalu Hanuman menghancurkan Taman Argasoka serta membakar Istana Alengka. Lalu Hanuman melaporkan kekuatan pasukan lawan kepada Rama yang membangun jembatam untuk menyerang Alengka. Setelah itu peperangan terjadi dan Rahwana kalah. Kemudian Shinta bertemu Rama kembali namun Rama meragukan kesucian Shinta. Dengan bantuan Dewa Api Shinta berhasil membuktikan kesuciannya. Dan akhirnya Rama menerima Shinta kembali.”

g.      Langendriyan

Bentuk drama Jawa yang sudah jarang muncul di atas pentas ialah langendriyan. Opera-drama-tari ini berkembang pada paruh kedua abad ke-18 di Surakarta dan Yogyakarta. Adalah menantu Sri Mangkunegara IV (1853-1881) yang menggubah gaya Surakarta, sedangkan Raden Tumenggung Purwa-diningrat dan Pangeran Mangkubumi menciptakan gaya Yogyakarta pada 1876.

Menurut versi Kasunanan Surakarta, yang mengilhami bentuk teater tradisional ini ialah tradisi ura-ura atau menembang yang dilakukan buruh batik di perusahaan milik Godlieb, daerah Pasar Pon, Solo. Selama pementasannya, seniman langendriyan menguras stamina luar biasa sebab sepanjang pertunjukan mereka menari sambil berjongkok dan sesekali bertumpu pada lutut. Selain itu, langendriyan memiliki tingkat kesulitan yang tinggi sehingga menuntut kemampuan yang prima dari seniman pendukungnya, mulai dari olah tari, vokal, hingga kemampuan teater.
Langendriyan mengambil lakon Damar-wulan, sebuah roman sejarah tentang perjuangan Ratu Ayu Kencanawungu dari Majapahit, Jawa Timur, yang berusaha mengatasi pemberontakan Menakjingga, Bupati Blambangan. Sama seperti teater tradisional Jawa lainnya, langendriyan diiringi orkestra gamelan, dengan dialog para pemain menggunakan tembang Jawa.
Adapun di Yogyakarta, kisah yang diambil yaitu Ramayana. Dan, karena banyaknya tokoh kera (wanara) maka pertunjukan disebut langen-mandrawanara. Sesuai dengan perkembangan zaman, banyak sentuhan baru diberikan pada opera Jawa ini. Dekade 1970 dan 1980 ialah momentum saat langendriyan mendapat sentuhan dari koreografer Jawa seperti Sardono W Kusumo, Retno Maruti, dan Sal Murgiyanto.
Mereka memadukan langendriyan dengan bedaya dan wayang wong supaya tercipta dramatisasi lain di atas pentas. Kolaborasi tersebut selanjutnya dikenal dengan sebutan langenbeksa. Selain langendriyan, Jawa-utamanya Jawa Tengah-mengenal teater tradisional lain, yakni wayang wong, golek menak, dan sendratari. (7N-4)

Drama Tari Berlagu

1.       ARJA
Arja adalah salah satu  jenis kesenian yang ada di Bali yang masih digemari oleh masyarakatnya.  Kata Arja diduga berasal dari bahasa Sansekerta yaitu  “reja” yang kemudian mendapat awalan “a” sehingga menjadi “areja” dan  pada akhirnya berubah menjadi “Arja”. Kata Arja yang berarti keindahan atau mengandung keindahan.
Sebagai suatu bentuk teater Arja merupakan seni teater yang sangat kompleks karena merupakan perpaduan dari berbagai jenis kesenian yang hidup di Bali, seperti seni tari, seni drama, seni vokal, seni instrumentalia, puisi, seni peran, seni pantomim, seni busana, seni rupa dan sebagainya.

       Sesungguhnya Arja adalah perpaduan antara dua pendukung teater, yaitu gagasan yang datang dari para pendukung (pemain) dan penonton.selain itu, sebagai suatu bentuk total teater, Arja ini sangat komunikatif dengan masyarakat penikmatnya. Untuk daerah Bali hal ini tidak mengherankan karena memang demikian adanya, sebagaimana dengan berbagai bentuk kesenian lainnya. Yang sangat unik adalah keterlibatan penonton dengan teater di Bali. Penonton sejak mulai pertunjukan seolah-olah sudah menentukan keberhasilan suatu pertunjukan melalui sikap yang mereka lakukan sebagai reaksi atas ungkapan yang dilontarkan pemain atau pelakon saat mereka bermain.

        Dari perkembangan selama ini dapat dikatakan bahwa Arja masih sangat populer di masyarakat Bali. Hal ini dapat terlihat dari antusias masyarakat Bali dalam setiap pertunjukan kesenian Arja ini,  Salah satunya yaitu saat diadakannya pesta kesenian Bali (PKB). Adapun persebaran Arja di provinsi Bali meliputi beberapa kabupaten seperti Bangli, Klungkung, Gianyar, Anlapura, Badung, Tabanan, Jembrana, serta Singaraja.

v
  Sejarah Kesenian Arja
kesenian Arja diduga berkembang sejak sekitar tahun 1814, yaitu pada pemerintahan I Dewa Gde Sakti di Puri Klungkung, saat diadakannya upacara Pelebon yang dilakukan oleh I Gusti Ayu Karangasem. Upacara Pelebon besar-besaran ini dihadiri oleh berbagai kalangan, termasuk raja-raja seluruh Bali. Pada saat itu atas prakarsa I Dewa Agung Mangis asal Gianyar dan Dewa Agung Jambe digelarkan untuk pertama kalinya Arja.

Ketika itu Arja dikenal dengan nama Dadap dan lakon yang dipertunjukkan adalah Limbur. Dadap adalah nama sejenis pohon dan juga berarti perisai. Pohon Dadap adalah kayu sakti, sebagai lambang pembersihan atau alat penyucian yang harus ada dalam setiap upacara di Bali.
Tiga fase penting dalam perkembangan Arja adalah:
  • munculnya Arja Doyong yaitu Arja yang dalam pementasannya  tanpa iringan gamelan, dimainkan oleh satu orang.
  • Arja Gaguntangan adalah Arja yang dalam pementasannya  memakai gamelan Gaguntangan dengan jumlah pelaku lebih dari satu orang.
  • Arja Gede adalah Arja yang dalam pementasannya  yang dibawakan oleh antara 10 sampai 15 pelaku dengan struktur pertunjukan yang sudah baku seperti yang ada sekarang.

       Waktu itu Arja digelar dengan tata cara wayang lemah untuk upacara pelebon, dengan memakai dahan dadap sebagai tiang kelir. Sejalan dengan wayang lemah maka tokoh-tokoh Arja pun dibagi menjadi dua golongan, yaitu golongan yang baik dan yang buruk.
pada abat ke 20 kesenian Arje mengalami suatu inovasi, dimana semua pemeran arja adalah pria. bahkan tokoh yang wanita pun dimainkan oleh pria. ini menjadi keunikan sendiri dan sungguh menghibur. Arja ini sering di sebut Arja Muani
v  Pementasan Arja 
          pementasan kesenian Arja di awali oleh Igel pepesan, yakni gerak permulaan pada saat munculnya ke pentas adalah suatu kekhasan yang dimiliki oleh setiap pemeran dalam Arja. Kemudian pemeran akan mulai dengan igel pencerita dengan memperkenalkan diri kepada penonton. Bahasa yang digunakan oleh para pemeran sangat bervariasi, menurut kedudukan si pemeran. Misalnya para pemeran tokoh raja menggunakan bahasa Jawa Tengahan atau bahasa Bali Halus, yang biasanya kemudian diterjemahkan oleh para panakawan ke dalam bahasa Bali keseharian.

        Vokal di Arja dapat dibedakan menjadi dua, yaitu tembang yang berupa tembang macapat yang dalam baitnya terdiri atas guru wilang, jumlah baris, suku kata, serta dingdong pupuh dan akhir suku kata.Dalam tembang macapat baris dan melodi sangat diutamakan dan tembang-tembang itu lebih bersifat lirik-lirik daripada epik. Kemudian ada adegan yang terdiri atas monolog dan dialog yang biasanya merupakan ucapan pemuji, lelucon dan sebagainya didukung oleh nada yang tinggi dan rendah sesuai dengan watak yang diwakilinya.

         Busana yang digunakan dalam Arja menjadi sangat penting karena menjadi penunjuk atau merupakan identitas pemeran atas tokoh yang diwakilinya. Busana yang digunakan setiap pemeran akan sangat mendukung kebebasan gerak dalam memerankan tokohnya. Sedangkan tata rias lebih bersifat dukungan terhadap watak yang diwakili oleh setiap pemeran. Musik lebih mengutamakan tembang dan melodrama. Gamelan Arja disebut Gamelan Gegentungan, namun dalam perkembangannya Arjan juga diiringi dengan gamelan gong. Sedangkan laras yang digunakan adalah slendro dan pelog, sesuai dengan tembang yang digunakan.

       Tempat pertunjukan Arja disebut kalangan, sehingga penonton dapat menikmati pertunjukan dari berbagai jurusan semua merupakan arena. Kalangan ini di satu sudut dilengkapi dengan sebuah rangki, yakni bagian yang ditutup/dibatasi, tempat para pemain mempersiapkan diri sebelum janur, lamak-lamak, bunga-bunga sebagai hiasan. Kalangan ini berukuran kira-kira 10 x 6 meter, meski pada umumnya disesuaikan dengan tempat yang tersedia. Zaman dulu, sebelum ada listrik, digunakan sejenis oncor, kemudian beralih kepada stormking atau petromaks.
       Tembang Arja adalah tembang Lelawasan, sejenis kidung atau tembang Gambuh. Arja tidak menggunakan gamelan dan semua tokoh diperankan oleh pria, sehingga di Singaraja dan Gianyar disebut Arya Doyong.

v  Fungsi Kesenian Arja
 Menurut fungsinya Arja digolongkan ke dalam kelompok Tari Balih-balihan. Sebagai suatu bentuk teater Arja dipengaruhi oleh Gabuh dan mempunyai uger-uger atau pola yang mencerminkan zaman Puri.Arja menyajikan ceritera kerajaan dan perwatakannya sangat diperngaruhi oleh adanya kasta.

Sebagai suatu pertunjukan Arja mempunyai makna juga untuk pendidikan. Biasanya masyarakat sesudah menonton Arja berhari-hari akan menirukan nyanyian dan lelucon yang ditampilkan oleh kelompok yang baru saja mereka lihat. Gerakan-gerakan lucu atau ungkapan tentang kejadian-kejadian yang menggelitik akan mereka ulangi dalam pergaulan sehari-hari. Dengan demikian Arja merupakan suatu media komunikasi yang sangat ampuh untuk menyampaikan pesan-pesan pembangunan.

v  Tokoh dalam Arja
        Dalam kesenian Arja Bali terdapat beberapa tokoh utama yaitu antara lain ; Inya, Galuh, Desak (Desak Rai), Limbur, Liku, Panasar, Mantri Manis, Mantri Buduh dan dua pasang punakawan atau Panasar kakak beradik yang masing – masing terdiri dari Punta dan Kartala. Tokoh-tokoh ini memiliki watak sendiri yang sering sekali memberi hiburan yang lebih untuk masyarakat yang menontonnya. Misalnya seperti Punta dan Kartala, Kartala adalah tokoh yang bersifat agak sombong dan sering sekali merendahkan orang, sedangkan Punta orang yang polos tetapi pintar dan licik sebenarnya. Duet ini sering sekali membuat kita tertawa. selain itu kekonyolan dari Desak rai, liku dan Libur juga sangat menyenangkan dan menarik.
v  Contoh Cerita Arja

·         Arja Sampek Ingtai
        Digambarkan dua sejoli yang bernama Sampik dan Ingtai berjumpa di kota Anciu (di suatu sekolah khusus untuk laki-laki). Untuk masuk ke sekolah ini Ingtai harus menyamar sebagai laki-laki. Setelah beberapa tahun sampik dan Ingtai berteman dekat, akhirnya Ingtai memberi tahukan bahwa ia adalah seorang wanita. Tentu saja hal ini membuat Sampik jatuh cinta. Keduanya kemudian berjanji untuk hidup berdua sebagai suami istri dan tetap bersama sehidup semati.
        Pada masa berakhirnya sekolah mereka, keduanya harus berpisah, pulang ke daerahnya masing-masing. Sebelum keduanya berpisah, Ingtai memberikan teka-teki, agar dipecahkan sebelum saat Sampik datang meminang dirinya. Sayang sekali Sampik tidak segera dapat menjawabnya, sehingga ia datang terlambat. Ingtai sudah dijodohkan dengan pemuda kaya raya bernama Macun. Tidak tahan menahan malu dan kecewa, Sampik jatuh sakit dan akhirnya menemui ajalnya. Kematian Sampik membuat Ingtai sedih dan kehilangan. Karena janji setia yang mereka ucapkan.
       Dalam perjalanan menuju ke rumah Macun, Ingtai meminta ijin untuk bersembahyang di kubur Sampik, yang diakuinya sebagai seorang temannya. Belum lama Ingtai bersembahyang, tiba-tiba kuburan Sampik terbuka. Ingtai kemudian melompat ke dalamnya. Sampik dan Ingtai akhirnya bersatu di alam keabadian.








                            












Kesimpulan
Kesimpulan yang dapat kami ambil bahwa Drama Tari Nusantara dapat  dibagi menjadi 3 kelompok besar, yaitu :
1.      Drama Tari Berdialog yang merupakan drama tari yang pengungkapan ceritanya disamping menggunakan gerak tari juga dengan menggunakan dialog.
Contoh dari drama tari berdialog antara lain :
a. wayang orang
b. ketoprak
c. ludruk

2.      Drama tari berlagu adalah drama tari yang pengungkapan ceritanya disamping menggunakan gerak tari juga dengan menggunakan nyanyian-nyanyian berupa kidung. Contohnya yaitu:
a.       Arja
b.      Sampik
c.       Arja Japatuan
d.      Arja godogan

3.      Drama Tari Tak Berdialog adalah drama yang diungkapkan dengan gerak tari, dialognya digantikan olehseorang yang berperan sebagai dalang/ pengisi suara(dubbing) dan terkadang dibantu dengan tembang/lagu. Contohnya adalah
a.       Sendratari
b.      Langendriyan






CATATAN GURU

0 komentar:

Poskan Komentar