Artikel Calonarang Khas Bali

Selasa, 07 Mei 2013

Cerita (Arja) Kodok...Teater Rakyat Kisah Berbeda...ADA tokoh dongeng (satua) bernama I Godogan. Nama itu memberitahu kita tentang beberapa hal.

Pertama, ia adalah lelaki. Huruf ''I'' di depan nama itu adalah penanda jenis kelamin lelaki menurut konvernsi bahasa dan budaya Bali. Kedua, ia lahir dalam keluarga keturunan non triwangsa menurut startifikasi sosio-historis masyarakat Bali. Ketiga, ia diidentifikasi dengan kodok, alias manusia kodok.

Kata godogan dalam bahasa Bali berpadanan dengan kata kodok dalam bahasa Indonesia. Bedanya, godogan secara fisik lebih besar dari kodok.



IDENTIFIKASI pada umumnya terjadi berdasarkan persamaan-persamaan yang ada. Misalnya, berdasarkan persamaan bentuk lahiriah, karena persamaan watak, dan persamaan sifat. Hanya berdasarkan nama I Godogan itu saja, kita belum bisa mengetahui apakah ia seekor kodok yang diorangkan, atau ia adalah orang yang dikodokkan. Keduanya berbeda, yang pertama adalah kodok. Yang kedua adalah orang. Oleh karena itu, ceritanya mesti diikuti bila ingin tahu lebih jauh.

TERNYATA dalam versi cerita yang saya pernah dengar, hubungan identifikasi itu jauh lebih kompleks lagi. Pada mulanya konon ada manusia, sepasang suami istri, yang entah karena bermimpi apa dalam tidurnya, akhirnya mendapatkan anak berupa seekor kodok dari kandungan sang istri. Bentuk lahiriahnya benar-benar kodok. Batiniahnya lebih orang daripada orang kebanyakan.

Ia berbicara sebagaimana manusia umumnya. Ia punya sifat benar-benar manusia yang berbudi. Berbudi itulah kelebihannya daripada manusia pada umumnya. Kodok itu membujuk orang tuanya meminang putri raja untuk dijadikan istrinya. Tentu saja kedua orang tuanya pusing tujuh keliling. Mana mungkin Tuan Putri, terutama Baginda Raja, akan menerima pinangnya. Jangankan untuk bisa memasuki istana raja, di depan gerbang saja barangkali mereka akan diusir oleh para pecalang. Diusir belum seberapa. Bagaimana kalau mereka dibunuh karena dianggap melecehkan darah biru keluarga raja itu? Bagaimana kalau putera mereka yang kodok itu dimutilasi dan mayatnya dibuang ke empat penjuru jagat?

BEGITULAH awal kisahnya. Orang tua manusia kodok itu tahu keinginan anaknya sungguh berisiko nyawa. Tapi namanya anak semata wayang, kalau tidak dituruti kehendaknya barangkali ia akan bunuh diri. Dugaan mereka tidak salah, manusia kodok mendesak orang tuanya dengan ancaman akan pergi meninggalkan rumah, dan bahkan siap mengakhiri hidup bila tidak dipinangkan idaman hatinya.

Setelah melewati berbagai konflik cerita, yang tidak perlu diceritakan panjang lebar di sini, singkat cerita kedua orang tua itu berhasil menikahkan putera-kodoknya dengan Tuan Putri. Pernikahan berlangsung dengan dewasaksi. Tidak jelas saya ingat, apakah dalam pernikahan langkah itu ada manusasaksi. Yang saya ingat, pernikahan itu nampaknya sangat direstui oleh para Dewa. Alam pun seperti girang menyambut pasangan langka itu. Terbukti kodok itu kemudian berubah wujud lahiriah menjadi manusia pada malam pertamanya. Ia bahkan manusia dari jenis pangeran yang lebih dari sekadar manusia pada umumnya.

ITULAH CONTOH identifikasi yang kompleks antara manusia dengan kodok, atau antara kodok dengan manusia. Guru bahasa Indonesia di sekolah menjelaskan bahwa, kodok yang diorangkan disebut gaya personifikasi. Tapi kalau kita ikuti juga ceritanya, hubungan kodok itu dengan manusia jauh lebih kompleks dari apa yang dimengerti anak-anak sekolahan tentang gaya personifikasi. Ia bukan sekadar kodok yang diorangkan, tapi ia adalah roh manusia yang dikodokkan kemudian kembali dimanusiakan, bahkan dimanusia-superkan.

ITU BARU masalah identifikasi yang kompleks. Dalam dongeng I Godongan yang berasal dari cerita Panji yang berasal dari Jawa itu (ingat cerita Pangeran Kodok) terkandung kekompleksan lain. Misalnya, alur cerita Panji yang umumnya sangat standar, yaitu perpisahan dua kekasih yang kemudian bersatu kembali, disisipi motif kekuatan Bhatari Durga dalam wujud pradhana, yaitu Tuan Puteri. Persatuan manusia kodok (purusha) dengan pradhana itu menyebabkan terjadinya keajaiban di luar logika. Misalnya, terjadinya perubahan wujud.

Masih ada kekomplekan lain dari dongeng sederhana dan merakyat itu, yang tentu saja tidak akan dibicarakan di sini. Yang jelas dongeng itu memberitahu kita tentang beberapa hal. Salah satunya, bahwa perubahan bentuk lahiriah bisa dan sangat mungkin terjadi tanpa harus mengikuti perubahan yang terjadi pada aspek batinian. Manusia kodok hanya berubah secara fisik. Psikisnya tetap manusia berbudi.

KENYATAAN itu sulit dipahami, karena dalam persepsi umum perubahan bentuk biasanya mengikuti perubahan-perubahan yang terjadi pada aspek watak. Misalnya, orang yang wataknya menyerupai raksasa, maka bentuk lahiriahnya akan perlahan-lahan menyerupai raksasa yang seram dan buram. Manakala watak raksasa itu berhasil dientaskan, maka wajahnya kembali seperti manusia umumnya. Orang yang sifatnya menyerupai Bhutakala, maka wajahnya pun digambarkan seperti Bhutakala. Orang wataknya seperti ular, bentuk fisiknya disamakan dengan ular. Demikian seterusnya. Mereka kembali menjadi manusia bila terjadi perubahan mendasar pada watak. Tapi dalam dongeng I Godogan, perubahan fisik itu sama sekali tidak berkaitan dengan aspek batiniah. Secara batiniah ia orang, secara lahiriah ia kodok. Fisiknya berubah bukan karena batinnya berubah, tapi karena bertemu dengan shakti-nya.

APA YANG ingin disampaikan oleh dongeng itu? Yang kita punya hanya sejumlah dugaan. Dan apa pun dugaan itu, kembali pada masing-masing orang yang menyimak ceritanya.

Entah siapa seniman penggagasnya, pada periode 70-an sangat populer bentuk teater Arja yang mengisahkan cerita I Godogan. Sesuai dengan cerita garapannya, teater rakyat itu pun disebut Arja Godogan.

DI TABANAN, arja sebagai bentuk teater rakyat juga sangat populer pada masanya. Salah satu kelompok Arja Godogan yang punya nama pada masanya adalah kelompok arja dari Desa Dadakan, Kediri. Belakangan bentuk teater itu jarang tampil di desa-desa. Nama sekaa arja itu pun kemudian dikenal oleh generasi baru dari, misalnya, event Pesta Kesenian Bali. Atau, kalau ada festival teater rakyat sejenisnya. Teater rakyat ini sudah berpindah dari kalangan (arena tempat pementasan teater) yang dulunya cukup di jalan desa, ke panggung-panggung festival. Namun demikian, arja Godogan bukan satu-satunya arja di Tabanan. Pada masanya juga sangat terkenal kelompok Arja Mereng dari Desa Darma, Rianggede. Masa itu rupanya sudah berlalu. Jika sekarang ada sekelompok seniman hendak membangkitkan kembali bentuk teater rakyat itu, dan jika berhasil, maka teater itu akan memasuki zaman baru. Tentu akan berbeda lagi kisahnya.

0 komentar:

Poskan Komentar