Makalah Tari Telek Khas Jumpai, Bali

Selasa, 07 Mei 2013

                                                   BAB 1
                                                Pendahuluan
1.1 Latar Belakang
           Bali adalah sebuah pulau di Indonesia , sekaligus menjadi salah satu provinsi Indonesia. Bali terletak diantara pulau jawa dan pulau lombok. Ibukota provinsinya iyalah Denpasar yang terletak di bagian selatan pulau, tempat-tempat penting lainnya adalah Ubud sebagai pusat seni terletak di kabupaten Gianyar , sedangkan Kuta , Sanur , Seminyak , Jimbaran dan Nusa Dua adalah beberapa tempat yang menjadi tujuan pariwisata. Di dunia , Bali terkenal sebagai tujuan pariwisata dengan keunikan berbagai hasil seni budayanya, dan Bali juga dikenal sebagai Pulau Dewata
Musik tradisional Bali memiliki kesamaan dengan musik tradisional di banyak daerah lainnya di Indonesia, misalnya dalam penggunaan gamelan , dan berbagai alat musik tabuh lainnya. Demikian pula beragam gamelan yang dimainkanpun memiliki keunikan , misalnya gamelan jegog , gong gede, gamelan gambang, gambelan serunding, dam gamelan semar pegulingan. Ada pula musik angklung dimainakan untuk upacara ngaben serta musik bebonangan dimainkan dalam upacara lainnya.
Seni tari Bali pada umumnya dikatagorikan menjadi 3 kelompok yaitu , Wali (seni pertunjukan sakral), Bebali (seni pertunjukan untuk upacara), dan Balih-balihan (seni tari untuk hiburan pengunjung). Tari Wali  contohnya SangHyang Dedari , tari Bebali contohnya tari Topeng, tari Balih-balihan contohnya Tari Legong.
Berdasarkan hal tersebut maka perlu dicermati lebih dalam tentang bagaiamanakah eksistensi kesenian tari telek itu sendiri pada masyarakat Bali yang merupakan bentuk warisan budaya bangsa dalam menunjukkan karaktertistik masyarakat Bali pada khusunya.
Kurangnya pengetahuam siswa tentang sejarah tari di Bali meski tari Bali sudah dilestarikan tapi masih perlu adanya pengetahuan tentang sejarah tari telek. Dalam menyusun laporan ini , saya sangat berterimakasih kepada berbagai sumber informasi dan data yang telah saya gunakan baik secara langsung maupun tidak langsung
Semoga laporan sederhana ini dapat memenuhi syarat sebagai tugas dalam bidang kesenian serta dapat berguna sebagai pengetahuam dan dapat memeberika dukungan terhadap kelestarian kebudayaan terutama pelestarian tari telek.
1.2 Rumusan Masalah
1.      bagaimana cara melestarikan tari telek pada zaman modern saat ini
2.      bagaimana sejarah teri telek
3.      apa fungsi tari telek
4.      apa saja musik iringan tari telek
5.      apa saja ragam gerak tari telek

1.3    Tujuan Penulisan
           Memperkenalkan tari Bali , terutama Tari Telek, Memberikan informasi tentang Tari Telek, untuk meningkatkan pemahaman pembaca tentang Tari Telek , untuk melestarikan tari tradisional Tari Telek yang diharapkan memberi manfaat kepada semua pihak khususnya kepada siswa untuk menambah pengetahuan dan wawasan kesenian yang berada di Bali. Manfaat lain dari penulisan makalah ini adalah diharapkan dapat dijadikan acuan di dalam menghadapi ujian masuk perguruan tiggi negeri , khususnya bagi para siswa yang ingin mengikuti perguruan tinggi negeri











        BAB 2
Pembahasan
2.1 Sejarah Tari
Pada suatu hari , I Sweca alias Nang Turun menemukan kayu terdampar (kampih) di pantai sudah
berbentuk calonan (sebuah kayu yang belum berwujud) Rangda. Sambil membawa pahat dan temutik (pisau paraut kayu), Nang Turun membawa kayu tersebut sambil menggembala sapi. Ketika itu cuacasangat panas dan ia pn berteduh di Pura Dalem Kekeran. Semasih ia sadar, ia mendengar suara “tempe kai” (tirulah aku) dan datang suatu bayangan berwujud rangda. Dengan segera ia meniru bayangan tersebut, baru selesai wajahnya dan belum bertelinga, bayangan Rangda itu sudah menghilang, sehingga perwujudan rangda sampai sekarang tidak ada telinganya. Oleh karena tapel tersebut dianggap terlalu besar setelah selesai dibuat oleh Nang Turun dan memiliki kekuatan magis yang terlalu besar (misalnya saat dipentaskan/mesolah aura magis dari tapel tersebut menimbulkan pagar – pagar rumah masyarakat di sekitar tempat pementasan roboh), atas petunjuk seorang yang kesurupan dbuatlah tapel yang baru dengan meminta ijin pada penunggu pohon Pole ke setra Akah dan membawa sesajen.
            Namun, sebelum itu, pada suatu masa di Desa Jumpai mengalami wabah penyakit hingga rakyat yang berjumlah 800 orang tinggal 300 orang. Karena banyak yang mati dan ada pula yang meninggalkan desa mengungsi ke Badung, Seseh, dan Semawang, dan banjar menjadi menciut dari 5 banjar menjadi 2 banjar. Saat itu masyarakat Desa Jumpai menganggap kejasian tersebut diakibatkan oleh daya magis yang ditimbulkan oleh Rangda, Barong, dan Telek yang setiap mesolah menggunakan tapel yang dibuat oleh Nang Turun dari kayu yang ditemukan di tepi pantai. Kemudian, oleh masyarakat Desa Jumpai tapel-tapel tersebut dihanyutkan kembali ke pantai. Akan tetapi, tapel-tapel tersebut datang kembali diusunh oleh makhluk halus (gamang) ditempatkan dipinggir pantai lagi. Berselang beberapa hari, tapel-tapel tersebut ditemukan oleh sekelompok masyarakat Desa Jumpai di pinggir pantai. Selanjutnya, maskyarakat Desa Jumpai meyakini bahwa tapel-tapel tersebut memang untuk Desa Jumpai dan masyarakat di Pura Dalem Penyimpenan (sampai sekarang).
            Oleh karena tapel tersebut terlalu besar daya magisnya, maka atas kesepakatan tetua-tetua di desa Jumpai, dibuatkanlah tapel baru lagi dengan fungsi yang sama, yaitu menghindari Desa Jumpai Dari wabah penyakit. Adapun yang membuat tapel-tapel tersebut (Barong, Rangda, dan Telek) bernama Kaki Patik bersama Tjokorda Puri Satria Kanginan. Upacara pamlaspas dipimpin oleh Ida Pedande Gde Griya Batu Aji yang berasal dari Pura Satria dan diselenggarakan di Desa Akah. Pada saat itu pula, selesai dibuat tapel Barong, Rangde dan Telek secara bersama untuk di Desa Akah dan untuk di Desa Muncan dengan warna tapel yang berbeda beda (Desa Akah warna tapelnya putih, Desa Muncan berwarna hitam, dan Desa jumpai berwarna merah), shingga kini Bhatara Gde di desa Akah dan di Desa Jumpai dianggap masemeton (bersaudara)
            Seperti yang diuraikan diatas, maka jelaslah proses terjadinya Telek. Akan tetapi, dalam penjelasan tersebut tidak dijelaskan kapan peristiwa itu terjadi. Demikian pula dengan halnya mula pertama timbulnya Tari Telek anak-anak Desa Jumpai yang sampai saat ini belum diketahui secara pasti. Informasi yang dapat dikumpulkan selama penelitian, bahwa Tari Telek anak-anak di Desa Jumpai sudah ada begitu saja atau sudah diwarisi secara turun temurun. Tetapi, informaso yang diinginkan adalah sedapat mungkin diperoleh data menyangkut perkembangan tarian ini.
            I Wayan marpa ,engatakan, bahwa Tari Telek anak-anak di Desa Jumpai diperkirakan mulai berkembang sekitar tahun 1935 hingga sekarang. Tarian ini dipentaskan 15 hari sekali, yaitu setiap rahinan Kajeng kliwon, dan setiap ada upacara piodalan di pura yang ada dilingkungan Desa Jumpai. Tari Telek ini biasanya ditarikan 4 orang penari dan penarinya boleh laki-laki ataupun perempuan, yang terpenting masih anak-anak. Jenis tari wali ini merupakan warisan leluhur yang pantang untuk tidak dipentaskan dilingkungan setempat. Warga setempat meyakini pementasab Telek sebagai sarana untuk memohon keselamatan dunia, khususnya di wilayah desa adat setempat. Jika Tari Telek tidak dipentaskan oleh masyarakat setempat, dipercaya akan dapat mengundang datangnya merana (hama penyakit pada tumbuhan dan ternak), sasab(wabah penyakit pada manusia), serta marabahaya lainnya yang dapat mengacaukan keharmonisan dunia. Untuk menghindari bencana yang menimpa desa tersebut, maka dengan kesepakatan masyarakat Desa Jumpai diadakanlah pementasan Tari Telek anak-anak dengan Barong Ket yang merupakan susuhunan Desa Jumpai. Sejak itu kematian semakin berkuarang.
            Pementasan Telek di Desa Jumpai sempat terputus beberapa tahun sebelum Gunung Agung meletus hingga tragedi G-30-S/PKI pecah.dua tragedi besar itu sempat menghancurkan kedamaian masyarakat di seluruh Bali. Guna mengembalikan kedamaian tersebut, para tetua di Desa Jumpai sepakat menggelar serangkaian upacara tolak bala, salah satunya menghidupkan kembali kesenian Telek yang mereka yakini sebagai sarana memohon keselamatan dunia-akhirat. Desa Jumpai sekarang, terbagi menjadi 2 banjar, yaitu Banjar Kangin dan Banjar Kawan. Dua banjar tersebut secara bergiliran mementaskan Tari Telek, namun di masing-masing banjar memiliki tapel Telek dan penari Telek. Seriap kali Telek dipentaskan, seluruh warga dipastikan mennyaksikan sekaligus memohon keselamatan kepada Ida Sang Hyang Widhi.
            Tari Telek ini dibawakan oleh 4 oenari yang boleh ditarikan oleh laki-laki maupun perempuan yang masih berusia anak-anak sampai memasuki masa Truna Bunga (akil balik kira-kira berusia 6 tahun sampai 12 tahun). Keempat penari itu memakai topeng berwarna putih dengan karakter wajah yang lembut dan tampan serta diiringi Tabuh Bebarongan. Baik di Banjar Kangin maupun Banjar Kawan, tarian ini tidak berdiri sendiri, tetapi senantiasa dirangkaikanndengan Tari Jauk, Tari Topeng Penamprat, Bhatara Gde(barong), Rarung dan Bhatara Lingsir (Rangda). Seluruh unsur tarian itu berpadu membangun satu kesatuan cerita yang utuh dengan durasi sekitar dua jam. Akhir pertunjukan diwarnai dengan atraksi narat/ngunying yaitu menusukkan keris ke dada yang bersangkutan maupun ke dada Bhatara Lingsir.
Adapun cerita yang dipergunakan dalam pertunjukan ini, sebagai berikut.
            Diceritakan bahwa Bhatari Giri Putri turun ke bumi untuk mencari air susu lembu, untuk suaminnya, Bhatara Siwa yang berpura-pura sakit. Bhatara Siwa ingin menguji keteguhan hati istrinya. Di bumi Bhatara Giri Putri bertemu dengan seorang pengembala lembu yang sedang memerah susu, lalu beliau mendekatinya dan meminta air susu lembunya untuk obat suaminya si pengembala akan memberinya apabila Bhatara Giri Putri mau membalas cinta asmaranya dan Bhatara Giri Putri menyetujuinya. Sebenarnya si pengembala tersebut adalah Bhatara Siwa sendiri yang ingin menguji kesetiaan istrinya.
            Setelah air susu lembu diperolehnya, lalu dihaturkan kepada Bhatara Siwa, tetapi Bhatara Siwa ingin menguji air susu tersebut dengan memasang nujumnya yang dilakukan oleh Bhatara Gana. Ternyata air susu tersebut didapat dengan jalan mengorbankan dirinya (berbuat serong). Seketika itu juga Bhatara siwa marah dan membakar lontar nujunya. Bhatara Siwa lalu mengutuknya mejadi Durga dan tinggal sebagai penghuni kuburan yang bernama Setra Ganda Mayu dengan hambanya yang bernama Kalika.
            Sang Hyang Kumara yang masih kecil ditinggalkam oleh ibunya, Bhatara Giri Putri, menangis kehausan. Bhatar Siwa lalu mengutus Sang Hyang Tiga untuk mencari ibunya ke bumi. Pertama, turunlah Sang Hyang Wisnu dengan berubah menjadi Telek menyebar ke empat penjuru, tetapi tidak menemukannya. Terakhir, turunlah Sang Hyang Iswara yang berbentuk Banspati Raja (Barong). Karena dekat dengan Setra Ganda Mayu, maka beliau melihat Kalika sedang bersemedi. Kemudian Kalika dikoyak-koyak maka timbul marahnya, dan terjadilah perang antara Kalika dengan Barong (Bhatara Iswara). Akhirnya kalika kalah, lari menuju Bhatara Durga untuk melaporkannya. Pada saat itu Durga berbentuk Rangda dan kemenangan ada pada Raangda. Demikianlah perkembangan Tari Telek pada anak-anak di Desa Jumpai, serta cerita yang dipakai dalam pementasannya di Desa tersebut dan cerita tersebut masih dipergunakan sampai sekarang.
Tari Jauk ini menggambarkan raja atau pemimmpin yang sangat angkuh dan sombong seperti raksasa bermahkotakan raja, gerak geriknya cenderung kasar dan tidak menghiraukan sopan santun.
Tari Jauk dibedakan menjadi dua yaitu :
1.      Jauk Keras, seperti namanya, gerakannya pun lebih bringas. Dimana gerakannya lebih energik dan gamelan gongnya pun cepat, biasanya mempunyai gerakan standar sendiri. Topeng yang dipakai adalah topeng yang berwarna merah, dimana menggambarkan keberingasan sang Raksasa. Topeng yang dipakai seperti ini. Jadi merah, ada kumis dan mata melotot tajam, menggambarkan keberingasan.
2.      Jauk Manis, jauk ini seperti namanya, mempunyai gerakaan yang lebih berwibawa. Aslinya Jauk Manis ini pakaiannya sama denga Jauk Keras tetapi bedanya ada di topengnya dimana Topengnya berwarna putih dan kelihatan lebih berwibawa. Karena Jauk Manis ini lebih fleksibel dari Jauk Keras, para seniman tari di Bali akhirnya mengimprovisasi dan membentuk tarian Jauk yang berbeda. Misalnya topeng tua, tari ini termasuk tari topeng jauk. Dimana menggambarkan orang tua. Jadi gerakannya pun mirip seperti orang tua, itulah keunggulan jauk manis yaitu topengnya lebih lembut dari Jauk Keras.


2.2 Perkembangan Tari
         
Perkembangan tari telek pada saat ini masih menunjukkan eksistensinya khususnya di daerah jumpai , walaupun di daerah lain di Bali tidak banyak yang mengetahui tentang tari telek. Tari telek masih mengalami eksistensi yang baik di daerahnya, Ini disebabkan tari telek adalah tarian sakral daerah desa jumpai yang terkenal dengan mistisnya dan harus dipentaskan setiap hai rahinn kajeng kliwon, maka dari itu tarian ini masih tetap ada hingga saat ini, walaupun tidak banyak yang mengetahui
 Tarian  ini tidak diketahui kapan munculnya, tarian ini ditarikan oleh anak-anak, tarian ini setiap dipentaskan selalu disandingkan dengan rangda atau barong. Karena dipercaya menolak bala sampai saat ini desa jumpai rutin mementaskan tarian tersebut. Bagi warga khususnya warga Bali yang tidak mengetahui tentang tari telek, semoga dengan laporan ini bisa memberi atau menambah wawasan nya mengenai tarian sakral yang ada di bali seperti contohnya tari telek.

2.3 Fungsi tari
Tari telek merupakan salah satu tari wali atau tari sakral. Tarian ini biasa ditarikan setiap hari rahinan kejng kliwon khususnya hanya di Desa jumpai, tarian ini mengandung aura mistis yang sangat kuat yang juga diyakini atau dipercaya oleh warga setempat sebagai penolak bala dan jika tidak dipentaskan secara rutin akan menimbulkan bencana atau menyebabkan keadaan sekitar menjadi kacau dan bisa juga menjadi penyebab datangnya wabah penyakit.
Tarian ini juga sekaligus sebagai tari hiburan karena setiap tarian ini dipentaskan, dipastikan seluruh warga desa jumpai akan menyaksikan tarian ini, setelah atau sebelum melakukan persmbahyangan.




2.4 Ragam gerak
Gerakan Tari Telek Jumpai dapat dikatakan tidak jauh berbeda dengan gerak-gerak Tari Telek pada umumnya ditempat lain. Akan tetapi terdapat salah satu gerak yang menunjukkan ciri khas dari Tari Telek di Desa Jumpai, yaitu gerakan yang berpusat pada kaki dengan disertai gerakan di lutut, tangan kanan ngembat dang tangan kiri ngepel kipas. Gerakan ini disebut gerakan kambing buang. Adapun gerakan Tari Telek di Desa Jumpai dapat dijelaskan sebagai berikut :
1.      Agem, sikap berdiri sesuai dengan karakter yang dibawakan, dan dikenal dengan adanya agem kanan dan agem kiri. Agem kanan Tari Telek Anak-anak di Desa Jumpai adalah posisi tangan kanan sejajar mata ngepel kipas, sedanhkan tangan kiri sirang susu, pandangan ke depan, kaki tapak sirang renggang kira-kira du genggam tangan. Begitu pula sebaliknya dengan agem kiri.
2.      Nyalud, gerakan tangan kesamping bawah dengan posisi tangan ngemudra.
3.      Nyer segala arah, posisi tangan, satu sirang susu dan satu lagi ngembat.
4.      Aras-arasan, gerakan leher ke kanan dan ke kiri mulai dengan lambat kemudian cepat. Mearas-arasan menurut I Made Santa selaku koordinator Tari Telek ini adalah sama dengan pengipuk, yaitu ekspresi cinta yang siungkapkan melalui tarian atau gerak tari.
5.      Ngeliput, pegangan kipas diujung jari tangan (nyungsung) dengangerakan yang bernama utul-utul, yaitu pegekangan tangan diputar.

6.      Malpal, gerakan berjalan menurut mat atau kajar dalam suatu lagu gamelan. Dalam gerakan ini jatuhnya kaki tetap tapak sirang pada. Begitu pula gerakan malpal yang terdapat pada Tari Telek di Desa Jumpai.
7.      Ulap-ulap, posisi lengan agak menyiku dengan variassi gerak tangan seperti memperhatikan sesuatu.
8.      Ngumbang, gerakan berjalan pada tari dengan jatuhnya kaki menurut mat gending atau pukulan kajar. Ngumbang ada 2 macam yaitu ngumbang ombak segara dan ngumbang luk penyalin. Ngumbang ombak segara adalah berjalan ke depan, ke belakang posisi badan ngeed (rendah) dan kelihatan seperti ombak segara. Sedangkan ngumbang luk penyalin adalah berjalan membentuk garis lengkung kanan dan kiri, kelihatan speprti lengkungan rotan. Begitu pula ngumbang yang terdapat pada Tari Telek di Desa Jumpai ada ngumbak ombak segara dan ngumbang luk penyalin.
9.      Gerakan kambing buang, gerakan ini seperi gerakan ngitir yaitu, dilakukan lebih cepat dari ngegol, dilakukan ditempat dengan posisi tangan kiri ngembat, sedangkan tangan kanan ngepel kipas. Gerakan ini berpusat pada lutut yangb bergetar.
10.  Gerakan ngotes oncer gelungan, gerakan ini adalah gerakan tangan kiri mengibaskan oncer pada gelungan, semacam ngotes rambut pada Tari Gambbuh hanya saja putarannya kedepan.
11.  Gerakan angkih-angkih, gerakan mengatur nafas sehingga gerakan badan menjadi naik turun.
Struktur gerak dan pola lantai Tari Telek.
            Tari Telek yang terdapat di Desa Jumpai kabupaten Klungkung mempunyai struktur gerak dan pola lantai yang cukup sederhana, yaitu sebagai berikut :
a)      Pepeson (pembukaan),
- Setelah diawali dengan tabuh pembukaan, muncullah 4 orang penari telek dengan gerakan malpal atau berjalan menyilang, tangan kanan memegang kipas ngeliput, tangan kiri sirang susu.
- Kemudian mengambil tempat masing-masing yaitu dibagian depan 2 orang penari, dan bagian belakang 2 orang penari, dengan gerakan agem kanan, mengatur nafas, diikuti kipekan dan sledet, dan dilanjutkan dengan agem kiri yang gerakannya sama seperti agem kanan. Gerakan ini dilakukan 2 kali berturut-turut.
b)      Pengawak (isi),
- Nyeregseg bersama-sama ke kanan dan kekiri sebanyak 4 kali, agem kanan diteruskan dengan berjalan kemudian bertukar tempat lalu melakukan gerakan kambing buang atau ngitir, kemudia nyregses lagi, dilanjutkan dengan agem kanan.
- Mearas-arasan, yaitu 2 orang penari jongkok dan 2 orang penari lainnya berdiri. Ini dilakukan secara bergantian.
c)      Pekaad (penutup),
- Kemudian para penari Teelek ini mencari tempat semula dan duduk dengan kipas ngeliput. Maka datanglah dua orang penamprat yang melakukan gerakan agem kanan, agem kiri, opak lantang, berjalan malpal, kemudian para penari Telek bangun malpal menjadi satu baris menghadap ke belakang.
- Setelah itu, 2 penari Telek nyregseg ke kanan dan 3 orang lainnya ke kiri. Ini dilakukan bergantian dengan gerakan ngeliput, tangan kiri sirang susu, dan penari atau penamprat pulang, dan berakhirlah Tari Telek ini.
2.5 Kostum
           Tata rias dan busana kostum atau busana adalah segala perlengkapan pakaian dalam tari Bali. Busana merupakan faktor pendukung yang sangat penting dalam tari Bali, karena melalui busana penonton dapat membedakan setiap tokoh yang tampil.
Tari telek di Desa Jumpai memakai busana awiran yang sangat sederhana. Dari semula busana yang dipakai tidak mengalami perubahan. Adapun busana yang digunakan oleh penari Telek di Desa Jumpaidapat dibagi menjadi 3 bagian, yaitu hiasan badan, hiasan kepala, dan perlengkapan yang dibawa, serta tapel.
Dari kedua banjar (Banjar Kangin dan Banjar Kawan) busana yang mereka pakai sama, namun mereka memiliki dan perlengkapan masing-masing. Hanya saja tapel yang dimiliki kedua banjar tersebut berbeda bentuknya. Tempat menyimpan busana dan gelungan do Banjra Kawan dan Banjar Kangin adalah di dalam ruangan khusus yang berada di masing-masing bale banjar. Hanya tapel Telek saja yang disimpan bersama-sama dengan Barong dan Rangda di Pura Dalem Pesimpenan.
bagian bagian busana Tari Telek :  
               

1.      Hiasan kepala
Satu-satunya hiasan kepala pada Tari Telek di Desa Jumpai adalah memakai gelungan yang berbentuk cecandian yang terbuat dari kulit, penyalin dan benang putih yang melingkar sampai ke bahu yang gunanya untuk menjaga agar gelungan tidak jatuh, juga menutupi supaya karet talinya tidak terlihat kotor. Pada sisi kiri gelungan ada hiasan benang yang disebut dengan oncer. Masing-masing banjar memiliki gelungannya sendiri. Sebelum 
para penari Telek anak-anak ini menggunakan gelungan, mereka menggunakan penutup kepala terlebih dahulu. Penutup kepala tersebut berupa udeng putih yang merupakan selembaran kain berwarna putih yang berukuran 1 meter berbentuk persegi dan berfungsi sebagai penutup kepala
2.      Hiasan badan
Hiasan badan adalah yang digunakan untuk menutupi badan bagian bawah, yaitu terdiri dari :
1.      Celana putih yaitu, celana panjang dengan warna putih yang guunanya untuk menutupi badan bagian bawah.
2.      Baju putih, baju berlengan panjang dibuat dari kain putih
3.      Gelang kana, hiasan pada pergelangan tangan yang terbuat dari kulit dan dicat prada.
4.      Badong, hiasan pada leher yang bentuknya bundar, dibuat dari kain beludru yang dihiasi dengan batu-batu manik (mute)
5.      Awiran, hiasan yang berjurai-jurai berwarna-warni dan digantungkan pada badan dan juga dibawah keris.
6.      Lamak, hiasan depan yang dibuat dari kain yang berwarna-warni dan diihiasi dengan bermacam-macam warna mute.
7.      Stewel, hiasan yang membalut celana atau jaler dari bawah lutut sampai pada pergelangan kaki.
3.      Perlengkapan yang dibawa dan tapel :
1.      Kipas , Perlengkapan yanng dibawa penari Telek do Desa Jumpai adalah kipas yang terbuat dari kain yang diprada, beruas-ruas dari bambu, yang berfungsi sebagai properti atau perlengkapan busasa.
2.      Tapel, merupakan benda penutup wajah yang disebut juga topeng. Tapel Telek di Desa Jumpai terbuat dari kayu dan dicat berwarna putih yang banyaknya 4 buah. Tapel Telek Jumpai berbentuk tapel putri halus dengan warna putih untuk menunjukkan karakter halus.

2.6 Musik iringan
            Tari Telek diiringi oleh instrumental gamelan Bali lengkap atau sering atau sering kita sebut “gong bebarungan”. Instrumental ini terdiri atas banyak instrumental lain yang akan berpadu menjadi satu dan menghasilkan bunyian atau iringan yang dinamis “Gong Bebarungan” ini terdiri atas 12  jenis instrumental yang berbeda , yaitu :

1 ) Kendang  : kendang yang dipakai berjumlah 2 buah (sepasang) tanpai memakai alat pukul. Dimainkan dengan menggunakan tangan saling melengkapi dengan pasangannya.
2) Cengceng : ini bukan yang versi besar (seperti yang dipakai untuk beleganjur) tetapi versi yang lebih kecil dengan daun berjumlah 4-6 , dengan alat pukul yaitu berbentuk cengceng biasa tetapi kecil


3) Suling : suling diperlukan sebagai memperhalus dan memepermanis iringan musik. Suling disini bisa berjumlah 4-5 orang.
4) Petruk / tawe-tawe : instrumnetal ini berguna sebagai penentu tempo iringan musik. Cepat atau lambatnya tempo ditentukan oleh instrumental ini.
5) Gangse : adalah instrumental pokok yang dipakai dalam gamelan Bali ini , gangse dengan jumlah daun sebanyak 12 buah dengan nada-nada yang teratur. Gangse dalam iringan ini berjumlah 4 buah , dengan posisi 2 buah sebelah kiri , dan 2 buah sebelah kanan ugal / giying.
6) Ugal / giying : komando dari “Gong Bebarungan” iyalah ugal / giying. Instrumental ini berjumlah 2 buah dengan bentuk sama seperti gangse, namun nada dan entuk lebih besar. Posisi ugal ini berada di depan dan di belakang.


7) Kantilan : instrumental yang sama dengan gangse , tetapi bentuk dan nada lebih kecil. Instrumental ini berjumlah 4 buah dengan posisi yang sama seperti gangse.
8) Reong : instrumental yang hampir sama dengan salah satu instrumental dari Jawa ini berdaun 12 dan dimainkan oleh 4 orang dalam satu instrumental.
9) Kenyur : instrumental dengan daun sebanyak 7 yang dimana instrumental ini bertujuan agar iringan lebih ritmis dan indah di dengar. Di dalam “Gong Bebarungan” ini kenyur ini dipakai 29 buah
                                                                                                                                                      

10) Jublag : instrumental ini memiliki kesamaan dengan kenyur seperti yang disebutkan tadi. Memiliki tujuan yang sama dan bentuk yang sama , tetapi dengan perbedaan yang terletak pada jumlah daunnya , yaitu jablag berjumlah 5 daun.
11) Jegogan : sama seperti jublag dan kenyur , jegogan memiliki fungsi sebagai penghalus iringan musik serta agar iringan lebih ritmis dan dinamis. Jegogan erbentuk besar yang memiliki 5 daun dan berjumlah 2 buah dalam “Gong Bebarungan” yang diposisiskan di belakang bersama kenyur , jublag dan gong.

12)Gong : sebenarnya intrumnetal ini memiliki instrumental lain , yaitu
(a)Kempur : diartikan disini seperti istri dari gong dengan bentuk lebih kecil dan nada lebih kecil.
(b)Kentong : hanya sebagai pelengkap gong ini










BAB 3 Penutup
3.1Kesimpulan
Dari uraian yang saya tuliskan dalam makalah ini bahwa seni tari merupakan buah karya manusia yang di ekspresikan dalam gerak-gerak yang indah. Dimana setiap unsur geraknya mempunyai arti dan  tujuan dari sang koreografinya. Gerak seni tari bukan hanya tertumpu pada tubuh saja tetapi kelengkapan tari (rias , buasana , musik , dll) menjadi kebutuhan yang sangat terkait.
            Berbagai macam tari yang kita lihat banyak dipengaruhi oleh fungsi sosial seperti tari upacara, tari hiburan dan tari pertunjukkan. Sementara berdasarkan penyajiannya bentuk tarian terbagi atas tari tunggal , berpasangan , dan paduan berpasangan. Cara penyajiannya dapat secara statis dan mobile. Konsep garapan pada seni tari terbagi menjadi tari tradisional dan tari kreasi dengan tema Literer dan Non Literer sebagai acuan konsep garapan. Dari uraian di atas pula dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan seni tari adalah ekspresi jiwa manusia yang diwujudkan melalui gerak keseluruhan tubuh yang indah. Kita sebagai orang Bali yang memiliki rasa cinta terhadap kebudayaan Bali harus mengetahui sejarah tari Bali dan kita harus melestarikannya agar tidak diklaim oleh negara lain dan agar tidak punah.


           
3.2 Saran dan Kritik
Para remaja tidak melupakanTari Telek sebagai tari tradisional kita ,Kita sebagai generasi muda harus bisa melestarikan kebudayaan kita sendiri terutama di Bali, supaya budaya yang sudah ada dari zaman dahulu ini tidak tergeser oleh pengaruh budaya luar . Semoga laporan ini membantu proses belajar mengajar di sekolah dan bisa dimengerti oleh pembaca.


Daftar Pustaka &Narasumber


YandhiNama               : I Wayan Sudiarta, S.Pd
Ttl                    : Klungkung, 1 Desember 1980
Pendidikan      : S1 Pendidikan
Alamat                        : Jalan Puputan No 38 Semarapura Bali
No hp              : 081338608558
     Pekerjaan         : Guru
  1. Gerakan Pramuka Kwarcab Klungkung, Tahun 1996 – 2000.
  2. Komunitas Seni Sanggar Kayonan Klungkung, Tahun 1997 – sekarang.
  3. Ketua Karang Taruna Indonesia Kelurahan Semarapura Klod Kangin Klungkung, Tahun 2004 – 2010.
  4. Penari Pragmentari Festival Gong Kebyar PKB XXV Duta Kabupaten Karangasem, Tahun 2003, di Denpasar.
  5. Penari Baleganjur Festival Padang Bai Tahun 2005, di Karangasem.
  6. Penari Pragmentari Parade Gong Kebyar PKB XXIX Duta Kabupaten Klungkung, Tahun 2007. Di Denpasar
  7. Kegiatan Seminar Kesehatan Reproduksi dan Kanker di Kabupaten Klungkung, Tahun 2008.
  8. Peserta Pawai Pembukaan PKB XXX Duta Kabupaten Klungkung, di Denpasar Tahun 2008.
  9. Penari Pragmentari Baleganjur PKB XXX Duta Kabupaten Klungkung, di Denpasar Tahun 2008.
  10. Penari Tari Kreasi Kembang Pencak Parade Gong Kebyar PKB XXXI Duta Kabupaten Klungkung Tahun 2009 di Denpasar.

                                     
Nama               :I Komang OktaUdiana
Ttl                    :Jumpai 29 Oktober 1995
Alamat                        :Br.Kawan, Ds Jumpai
Hobi                : Kerawitan
Cita-cita          : -
Status              :Pelajar
Sekolah           : SMA 1 Semarapura
PRESTASI     :  - PKB Gong Kebyar Anak- Anak 2010
                           - PKB Gong Kebyar Anak- Anak 2011
                           - PKB Gong Kebyar Anak- Anak 2012







                                         
Nama               : I Wayan  Adi Martana
Ttl                    : Jumpai 24 Maret 1996
Alamat                        : Br  Kangin Ds. Jumpai
Hobi                :Megambel dan Menari
Cita – Cita       : Guru Seni Tari
Status              : Pelajar
Sekolah           : SMK 3 Saraswati / KOKAR
Prestasi            :- Juara 1 Baris Tunggal tingkat provinsi di Ubud
                          - Juara 1Tari Jauk Keras se- Kabupaten Klungkung
                          - Juara 1 Tari Kebyar duduk tingkat Kabupaten
                          - Juara 2 Tari Tani ( Kelompok) tingkat Kabupaten  





Lampiran:
                                       Foto – Foto Penari Telek

         


    

0 komentar:

Poskan Komentar